ADS1

Selamat Datang Di Blog Kompi Males
Terima kasih atas kunjungan Anda di blog Kompi Males,
semoga apa yang saya share di sini bisa bermanfaat dan memberikan motivasi pada kita semua
untuk terus berkarya dan berbuat sesuatu yang bisa berguna untuk orang banyak.

Manajemen Kinerja Organisasi dan Penilaian Prestasi dan penghargaan kerja



Berikut adalah pengertian dari manajemen kinerja dari beberapa Ahli:
1.        Menurut Schuler dan Jackson sistem manajemen kinerja adalah proses formal dan terstruktur untuk mengukur, mengevaluasi, dan mempengaruhi sikap, perilaku, dan hasil kerja para karyawan sesuai dengan perannya masing-masing.
2.        Menurut Mondy mendefinisikan manajemen kinerja sebagai proses berorientasi tujuan yang diarahkan untuk memastikan bahwa berbagai proses dalam organisasi berjalan dengan baik sehingga produktivitas karyawan, tim, dan organisasi itu sendiri bisa dimaksimalkan.
3.        Menurut Armstrong Manajemen kinerja adalah satu upaya untuk memperoleh hasil terbaik dari organisasi, kelompok dan individu-individu melalui pemahaman dan penjelasan kinerja dalam suatu kerangka kerja atas tujuan-tujuan terencana, standar dan persyaratan-persyaratan atribut atau kompetensi yang disetujui bersama.
manajemen kinerja membutuhkan tujuan yang jelas. Harus ada mekanisme untuk mengukur dan mengevaluasi pencapaian tujuan tersebut, baik dari sisi hasil atau proses pencapaian hasil yang tercermin dari sikap dan perilaku kerja karyawan. Dan yang paling penting adalah untuk memotivasi karyawan sedemikian rupa agar mau dan mampu memaksimalkan produktivitasnya. Manajemen kinerja organisasi tidak bisa dilepaskan dari aspek kompensasi berupa reward and punishment.
Menurut Villere  ada 4 kunci keberhasilan di dalam organisasi dimana seorang bekerja, yaitu :
1.        Hubungan yang saling mendukung dan mempercayai harus dikembangkan dan dipupuk di seluruh rantai perintah.
2.        Organisasi dan anggotanya tidak dapat efektif kecuali sasaran yang samar digantikan dengan sasaran-sasaran yang spesifik dan dapat diukur.
3.        Keterampilan harus dikembangkan untuk mengatasi kelambanan dan perlawanan komponen organisasi terhadap perubahan.
4.        Beberapa anggota organisasi memerlukan dukungan dan perhatian khusus untuk berubah dari komponen organisasi menjadi prestasi produktif.
tujuan manajemen kinerja organisasi adalah meningkatkan skill dan memotivasi karyawan agar  dan mampu bekerja dengan penuh semangat, efektik, efisien, dan produktif  sesuai dengan cara kerja yang benar sehingga diperoleh hasil kerja yang optimal.
keterkaitan kinerja dengan profesionalitas adalah kinerja sangat erat hubungannya dengan profesionalisme karena orang yang professional akan mempunyai kinerja yang baik. beberapa prinsip dasar meningkatkan kinerja :
Ø  Membangkitkan motivasi dan etos kerja untuk bekerja secara professional;
Ø  Meningkatkan kompetensi kerja (akademik/vokasional) melalui pendidikan, pelatihan, kelompok kerja, belajar sendiri;
Ø  Menerapkan sistem “reward and punishment”; menerapkan sistem imbalan yang memuaskan; dan menerapkan sistem jenjang karier yang jelas.
Menurut Ruky manfaat manajemen kinerja dilihat dari pengembangan sumber daya manusia sebagai berikut:
1.        Penyesuaian program pelatihan dan pengembangan karyawan
2.        Penyusunan program seleksi dan kaderisasi.
3.        Pembinaan karyawan
Pelaksanaan manajemen kinerja  menjadi sarana untuk meneliti hambatan karyawan untuk meningkatkan prestasinya.

C.    Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja
Beberapa factor yang mempengaruhi kinerja menurut para Ahli :
1.      Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson faktor-faktor yang memengaruhi kinerja karyawan adalah :
ü  Kemampuan mereka,
ü  Motivasi,
ü  Dukungan yang diterima,
ü  Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan, dan
ü  Hubungan mereka dengan organisasi.
2.      Menurut Mangkunegara faktor yang mempengaruhi kinerja antara lain :
a.       Faktor kemampuan secara psikologis, kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realita (pendidikan).
b.      Faktor motivasi. Motivasi terbentuk dari sikap (attiude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai terarah untuk mencapai tujuan kerja. Sikap mental merupakan kondisi mental yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai potensi kerja secara maksimal.
3.      Menurut Gibson  ada 3 faktor yang berpengaruh terhadap kinerja :
·         Faktor individu : kemampuan, ketrampilan, latar belakang keluarga, pengalaman kerja, tingkat sosial dan demografi seseorang.
·         Faktor psikologis : persepsi, peran, sikap, kepribadian, motivasi dan kepuasan kerja
·         Faktor organisasi : struktur organisasi, desain pekerjaan, kepemimpinan, sistem penghargaan (reward system)
Tahap-Tahap Manajemen Kinerja Organisasi
1.    Perencanaan Kinerja (Performance Planning)
Dalam organisasi yang efektif, pekerjaan direncanakan dari awal. Perencanaan berarti menetapkan harapan kinerja dan tujuan bagi kelompok dan individu untuk menyalurkan upaya mereka untuk mencapai tujuan organisasi. Mendapatkan karyawan yang terlibat dalam proses perencanaan akan membantu mereka memahami tujuan organisasi, apa yang perlu dilakukan, mengapa perlu dilakukan, dan seberapa baik harus dilakukan.
 2.  Pengelolaan kinerja.
     Pada tahap ini dipastikan bahwa rencana kinerja yang telah ditetapkan dapat dilaksanakan dan hasil yang ditentukan akan tercapai. Karyawan sebagai individu harus komit terhadap rencana yang telah disusun. Sedangkan atasan perlu memiliki leadership style yang mengarah kepada pembentukan organisasi berkinerja tinggi. Intinya ada suatu proses coaching, counseling, supporting dan empowerment dari atasan kepada bawahan atau karyawannya. Atasan memberikan dukungan kepada karyawan dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi mereka untuk mencapai hasil yang diharapkan.
3.    Evaluasi Kinerja (Reviewing)
Pada proses ini dilakukan evaluasi terhadap pencapaian kinerja dan sasaran yang ditentukan dan hasilnya dijadikan sebagai umpan balik (feed back). Proses ini dilaksanakan pada setiap karyawan dan setiap pegawai berhak mengetahui bagaimana kinerja mereka dan manajemen berkewajiban memberi tahu mereka. Dari hasil evaluasi dapat dilakukan Penilaian kinerja (performance appraisal), dilakukan secara objektif yang melibatkan berbagai pihak. Konsep penilaian yang dikenal adalah penilaian 360 derajat. Dimana penilaian dilakukan secara menyeluruh, sehingga hasilnya tidak subyektif. Penilaian (appraisal) seharusnya menghasilkan gambaran akurat dari performance pekerjaan secara individu.
4.    Reward & Punishment
Dalam organisasi yang efektif, penghargaan digunakan dengan baik. Menghargai karyawan berarti mengakui, secara individu dan sebagai anggota kelompok, atas kinerja mereka dan mengakui kontribusi mereka untuk misi lembaga. Suatu prinsip dasar pengelolaan yang efektif adalah bahwa perilaku semua dikendalikan oleh konsekuensi-konsekuensinya. Mereka konsekuensi dapat dan harus baik formal dan informal dan baik positif dan negatif.
Reward & punishment diberikan setelah melihat hasil realisasi kinerja, apakah sesuai dengan key performance indicator yang telah direncanakan atau belum. Reward & punishment dapat dijadikan sebagai motivasi dalam meningkatkan kinerja. Reward motivation lebih baik daripada punishment motivation. Reward dan punishment tidak hanya berupa financial tapi bisa juga berupa bentuk lain seperti promosi, kesempatan pendidikan, dll. Penerapan punishment harus hati-hati, karena dalam banyak hal pembinaan jauh lebih bermanfaat. 
Kendala dalam Penerapan Manajemen Kinerja
Secara umum masih banyak organisasi yang belum dapat mengimplementasikan PMS secara tersistematis dan berkesinambungan, mengapa? Dari beberapa temuan implementasi di perusahaan, penyebab gagalnya implementasi PMS disebabkan antara lain: Kurang mendapat dukungan dari pimpinan/manajemen, tidak adanya keterkaitan antara jabatan dengan performance standard sebagai ukuran penilaian, bias para penilainya, kesulitan dari para penilai dalam melakukan penilaian, kurangnya pemahaman terhadap PMS oleh karyawan, dan belum terintegrasinya PMS dengan sub sistem Human Capital yang lain



PENILAIAN  DAN PENGHARGAAN PRESTASI
A.    Pengertian Prestasi Kerja menurut Beberapa Ahli
1.      Mangkunegara menyatakan bahwa prestasi kerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugasnya, sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. 
2.      Kusryanto adalah perbandingan hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja persatuan waktu. 
3.      Dharma (dalam Ruki,2002:121) mengemukakan bahwa prestasi kerja adalah suatu yang dikerjakan atau jasa yang dihasilkan atau diberikan seseorang. Selanjutnya Ruki mengatakan bahwa dalam prestasi kerja tercakup hasil, prestasi kerja ditentukan oleh interaksi antara kemampuan dan motivasi. 
4.      Handoko  mengartikan prestasi kerja sebagai ungkapan kemampuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap, keterampilan dan motivasi dalam menghasilkan sesuatu. Selanjutnya Handoko menyatakan prestasi kerja sebagai ungkapan seperti output, efisiensi seta efektifitas sering dihubungkan dengan produktivitas.
B.  Manfaat prestasi kerja
 manfaat penilaian prestasi kerja dapat dirinci sebagai berikut:
1.  Memperbaiki prestasi kerja
Umpan balik pelaksanaan kerja memungkinkan pegawai, pimpinan unit kerja dan pengelola kepegawaian untuk dapat memperbaiki kegiatan-kegiatan mereka.
2.  Menyesuaikan kompensasi
Penilaian prestasi kerja membantu para pengambil keputusan dalam menentukan peningkatan pendapatan dalam bentuk penambahan tunjangan kinerja, pemberian bonus, dan bentuk kompensasi lainnya. Pegawai yang menunjukkan prestasi kerja yang lebih baik akan diberi penghargaan dengan pemberian tunjangan kinerja yang lebih besar.
3.  Manjadi pertimbangan dalam mutasi jabatan dan wilayah kerja
Mutasi wilayah kerja, promosi, dan demosi turut didasarkan pada prestasi kerja masa lalu atau antisipasinya. Promosi sering merupakan bentuk penghargaan terhadap prestasi kerja masa lalu.

4.  Mengarahkan pendidikan dan latihan
Prestasi kerja yang jelek mungkin menunjukkan kebutuhan pegawai akan pendidikan dan latihan terkait dengan kegiatan tugasnya. Demikian juga, prestasi yang baik mungkin mencerminkan potensi yang harus dikembangkan. Pendidikan dan latihan dapat meningkatan kompetensi pegawai dalam mencapai sasaran bahkan mengembangkan potensi lainnya.
5.  Mengarahkan perencanaan dan pengembangan karier
Umpan balik dari penilaian prestasi kerja dapat mengarahkan perencanaan dan pengembangan karier selanjutnya bagi pegawai tersebut, yaitu tentang jalur karier tertentu yang harus lebih ditekuni oleh pegawai.
6.  Mendeteksi penyimpangan proses penempatan pegawai
Hasil penilaian prestasi kerja yang baik atau jelek mencerminkan kekuatan atau kelemahan proses penempatan pegawai sehingga dapat menjadi pertibangan dalam melakukan penempatan ulang ke posisi yang lebih menguatkan.
7.  Menunjukkan kelemahan standar operasional prosedur (SOP)
Hasil penilaian prestasi kerja yang jelek mungkin merupakan suatu tanda kelemahan dalam desain pekerjaan/standar operasional prosedur (SOP). Penilaian prestasi kerja dapat membantu pimpinan unit kerja dan pihak-pihak lain untuk mendiagnosa letak kelemahan tersebut.
8.  Meningkatkan keadilan
Penilaian prestasi kerja secara akurat akan menjamin keputusan-keputusan penempatan internal diambil tanpa diskriminasi dan jauh dari subjektivitas para pengambil keputusan.

C.  Faktor – Faktor Yang Mengstimulus Prestasi Kerja
1.      Pekerjaan itu sendiri (Work It self),Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu sesuai dengan bidang nya masing-masing. Sukar tidaknya suatu pekerjaan serta perasaan seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut, akan meningkatkan atau mengurangi kepuasan kerja.
2.      Atasan(Supervision), atasan yang baik berarti mau menghargai pekerjaan bawahannya. Bagi bawahan, atasan bisa dianggap sebagai figur ayah/ibu/teman dan sekaligus atasannya.
3.      Teman sekerja (Workers), Merupakan faktor yang berhubungan dengan hubungan antara pegawai dengan atasannya dan dengan pegawai lain, baik yang sama maupun yang berbeda jenis pekerjaannya.
4.      Promosi(Promotion),Merupakan faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh peningkatan karier selama bekerja.
5.      Gaji/Upah(Pay), Merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang dianggap layak atau tidak.
D.  BENTUK – BENTUK PENGHARGAAN
Teori pengharapan Vroom mengatakan bahwa reward akan memunculkan kepuasan dan  dalam beberapa hal kinerja memunculkan reward, reward sangat berhubungan dengan  kepuasan dan kinerja. kinerja yang baik akan menghasilkan reward, dan reward ini akan mengarahkan kepada kepuasan.
Penghargaan (Reward) di bagi menjadi dua yaitu reward intrinsik dan ekstrinsik. reward ekstrinsik seperti gaji, promosi, status dan jaminan sedangkan reward intrinsik reward yang diterima karyawan untuk dirinya sendiri. Biasanya reward ini merupakan nilai positif atau rasa puas karyawan terhadap dirinya sendiri karena telah menyelesaikan suatu tugas yang baginya cukup menantang bisa berbentuk aktualisasi diri, pengakuan, andil dalam pengambilan keputusan dll.

sedot disini


Enter your email address to get update from Kompi Ajaib.
Print PDF
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
Copyright © 2013. portalbelajar | Distributed By Free Blog Templates | Template Created By Kompi Ajaib | Proudly Powered By Blogger